Diskon!

10 Tanya Jawab Seputar Bahtera Nabi Nuh: Mukjizat, Anak yang Tenggelam, dan Tanda Surutnya Banjir (Kisah Menakjubkan 25 Nabi dan Rasul)

Harga aslinya adalah: Rp199.000.Harga saat ini adalah: Rp75.000.

Kisah Menakjubkan 25 Nabi dan Rasul (1)
Kisah Menakjubkan 25 Nabi dan Rasul

10 Tanya Jawab Seputar Bahtera Nabi Nuh: Mukjizat, Anak yang Tenggelam, dan Tanda Surutnya Banjir

 

Pernahkah Si Kecil bertanya, “Bu, apakah benar anak Nabi Nuh ikut tenggelam dalam banjir?” atau “Bagaimana Nabi Nuh tahu kalau banjir sudah surut?” Kisah Nabi Nuh dan bahteranya sarat dengan pelajaran berharga tentang iman, keteguhan hati, dan kasih sayang Allah. Namun, di balik kisah penyelamatan, ada pula kisah pilu tentang seorang anak yang memilih jalan kesesatan. Mari kita selami 10 pertanyaan populer seputar bahtera Nabi Nuh, berdasarkan Al-Quran, hadis sahih, kitab tafsir ulama kredibel seperti Ibnu Katsir dan At-Thabari, serta temuan arkeologi!

Kisah Nabi Nuh alaihissalam adalah salah satu kisah yang paling sering diabadikan dalam Al-Quran. Beliau diutus kepada kaumnya yang menyembah berhala dan mendustakan risalah tauhid. Selama 950 tahun beliau berdakwah dengan penuh kesabaran, namun hanya sedikit yang beriman. Allah kemudian memerintahkan beliau untuk membuat bahtera raksasa sebagai sarana penyelamatan dari azab banjir yang dahsyat.

Kisah ini bukan sekadar dongeng sejarah, melainkan penuh dengan pelajaran tentang keimanan, kesabaran, dan pentingnya memilih jalan yang benar. Pertanyaan seputar bahtera ini—mulai dari alasan pembuatan, nasib anak Nabi Nuh, hingga bagaimana beliau mengetahui banjir telah surut—senantiasa menarik untuk dikaji.

10 QnA Seputar Bahtera Nabi Nuh

 

  1. Kenapa Allah Menyuruh Nabi Nuh Membuat Bahtera?

Jawaban: Allah memerintahkan Nabi Nuh membuat bahtera sebagai bentuk penyelamatan bagi beliau, para pengikutnya, dan sepasang hewan dari azab banjir besar yang menimpa kaumnya yang ingkar. Perintah ini tercantum dalam Al-Quran Surat Hud ayat 37:

“Dan buatlah bahtera dengan pengawasan serta kawalan Kami, dan dengan panduan wahyu Kami (tentang cara membuatnya); dan janganlah engkau merayu kepadaKu untuk menolong kaum yang zalim itu, kerana sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan (dengan taufan).”

Perintah ini merupakan jawaban atas doa Nabi Nuh setelah kaumnya terus mendustakan dan menyakitinya. Bahtera menjadi bukti nyata kekuasaan Allah dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba yang beriman. Allah berfirman bahwa hanya mereka yang beriman dan menaati perintah-Nya yang akan selamat dari azab yang dahsyat.

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam kitab Qashash al-Anbiya, perintah pembuatan bahtera ini juga merupakan bentuk ujian bagi Nabi Nuh. Beliau harus bekerja keras membuat kapal raksasa di tengah ejekan dan olok-olokan kaumnya yang ingkar. Mereka menertawakan Nabi Nuh yang sibuk membuat kapal di daratan yang jauh dari laut. Namun, Nabi Nuh tetap sabar dan terus bekerja atas perintah Allah .

  1. Siapakah Putra Nabi Nuh yang Ikut Tenggelam?

Jawaban: Putra Nabi Nuh yang ikut tenggelam dalam banjir besar bernama Kan’an (ada juga yang menyebut Yam). Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran Surat Hud ayat 42-43. Menurut para ulama seperti Ibnu Jarir At-Thabari dalam kitab Tarikhnya, Nabi Nuh memiliki beberapa putra: Ham, Sam, Yafits, Yam (Kan’an), dan Abid. Yam atau Kan’an inilah yang tenggelam bersama kaum kafir .

Detik-detik pilu ini digambarkan dalam Al-Quran:

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang’. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS Hud: 42-43)

Kan’an dikenal sebagai sosok yang zalim dan durhaka kepada orang tuanya. Ia berpura-pura menjadi orang beriman padahal menyembunyikan rasa benci yang teramat dalam pada sang ayah. Bahkan Kan’an dan ibunya yang merupakan istri Nabi Nuh sering menghina dan mencemooh Nabi Nuh. Ketika banjir datang, Kan’an lebih memilih berlindung di gunung karena menganggap air tidak akan mencapai puncak gunung. Namun, dugaannya keliru—banjir bahkan menenggelamkan puncak gunung tertinggi sekalipun .

  1. Mengapa Kan’an Tidak Selamat Padahal Ia Anak Nabi?

Jawaban: Keselamatan dalam ajaran Islam bukan ditentukan oleh hubungan darah atau status sosial, melainkan oleh iman dan ketakwaan kepada Allah. Ketika Nabi Nuh memohon kepada Allah agar anaknya diselamatkan, Allah menjawab dengan tegas:

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS Hud: 46)

Ini menunjukkan bahwa yang menentukan keanggotaan keluarga dalam pandangan Allah adalah amal dan keimanan, bukan sekadar hubungan nasab. Kan’an telah memilih jalan kekafiran dan kedurhakaan, sehingga ia tidak termasuk dalam janji Allah untuk menyelamatkan keluarga Nabi Nuh .

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pertanyaan Nabi Nuh kepada Allah bukanlah bentuk protes atau menggugat keadilan Tuhan, melainkan sekadar untuk mencari tahu. Allah telah berjanji kepada Nuh untuk menyelamatkannya beserta keluarganya, dan Kan’an telah keluar dari golongan ini karena kekafirannya . Pelajaran berharga ini mengingatkan kita bahwa iman tidak diwariskan—setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

  1. Berapa Lama Nabi Nuh Membuat Bahtera?

Jawaban: Para ulama berbeda pendapat mengenai lamanya pembuatan bahtera. Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia merangkum beberapa pendapat:

  • Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk menanam pohon as-Sajterlebih dahulu selama 20 tahun, kemudian membangun bahtera menggunakan kayu tersebut selama 40 tahun.
  • Ada pendapat yang menyebutkan masa pembuatan mencapai 100 tahun.
  • Ada pula yang meriwayatkan hingga 400 tahun.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa pembuatan bahtera bukanlah pekerjaan singkat. Nabi Nuh dan para pengikutnya bekerja keras selama bertahun-tahun, menghadapi cemoohan dan ejekan dari kaumnya yang ingkar. Ini mengajarkan kita tentang kesabaran dan ketekunan dalam menjalankan perintah Allah, meskipun menghadapi berbagai rintangan dan olok-olokan.

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ketika Nabi Nuh mulai membuat bahtera, kaumnya yang kafir sering melewatinya dan mengejek, “Wahai Nuh, apakah engkau sekarang menjadi tukang kayu setelah menjadi nabi?” Nabi Nuh menjawab dengan sabar, “Kalian akan tahu (akibatnya) jika azab Allah datang.”

  1. Bagaimana Bentuk dan Ukuran Bahtera Nabi Nuh?

Jawaban: Menurut riwayat yang paling kuat dan masyhur, bahtera Nabi Nuh memiliki panjang 300 hasta, lebar 50 hasta, dan tinggi 30 hasta. Bentuknya diajarkan oleh Malaikat Jibril. Bagian depannya dibuat seperti kepala ayam jantan, bagian ekornya seperti ekor ayam jantan, dan bagian tengahnya seperti perut burung .

Bahtera ini memiliki tiga tingkat:

  • Tingkat pertama: untuk hewan buas, binatang melata, dan singa.
  • Tingkat kedua: untuk binatang liar dan burung.
  • Tingkat ketiga: untuk manusia .

Para ulama juga menyebutkan bahwa bahtera ini dipakukan dengan paku besi untuk menguatkan sambungan antar kayu. Jumlah manusia yang ikut dalam bahtera diperkirakan sekitar 80 orang, terdiri dari separuh laki-laki dan separuh perempuan. Ada juga pendapat yang menyebutkan 72 orang atau 78 orang termasuk keluarga Nabi Nuh .

Ukuran yang sangat besar ini menunjukkan bahwa bahtera tersebut bukanlah kapal biasa, melainkan dibuat dengan ilmu dan teknologi tinggi yang memerlukan keahlian khusus (ishna’). Ini adalah salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Nuh.

  1. Apakah Banjir itu Benar-benar Terjadi dan di Mana Wilayahnya?

Jawaban: Benar, banjir besar itu benar-benar terjadi dan tercatat dengan jelas dalam Al-Quran serta didukung oleh bukti arkeologi. Al-Quran mengisahkan peristiwa ini dalam Surat Hud ayat 42-44. Allah berfirman:

“Dan difirmankan: ‘Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah,’ dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan kapal itupun berlabuh di atas gunung Judi.” (QS Hud: 44)

Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah banjir ini mencakup seluruh dunia atau hanya wilayah kaum Nabi Nuh. Sebagian mufasir berpendapat bahwa banjir hanya terjadi di wilayah kaum Nabi Nuh, namun ada pula yang berpendapat bahwa air menutupi seluruh permukaan bumi karena firman Allah bahwa tidak ada yang tersisa dari kaum yang zalim .

Ibnu Jarir dan ulama lainnya menyebutkan bahwa air menutupi puncak gunung tertinggi setinggi 15 hasta (sekitar 7,5 meter), sementara sumber lain menyebut 80 hasta (sekitar 40 meter) . Meskipun ada perbedaan pendapat, yang pasti adalah bahwa banjir ini merupakan azab yang dahsyat bagi kaum yang mendustakan Nabi Nuh.

Temuan arkeologi oleh Sir Leonard Woolley di Kota Ur (Irak) pada 1922-1934 menemukan lapisan tanah liat setebal 10 kaki yang memisahkan dua periode kehidupan manusia, yang diyakini sebagai bukti banjir besar yang pernah melanda peradaban Sumeria. Temuan serupa juga ditemukan di kota-kota kuno lainnya seperti Kish, Erech, dan Shuruppak.

  1. Di Mana Bahtera Nabi Nuh Berlabuh?

Jawaban: Al-Quran menyebutkan bahwa bahtera berlabuh di atas Gunung Judi. Allah berfirman:

“Dan difirmankan: ‘Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah,’ dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan kapal itupun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang zalim.'” (QS Hud: 44)

Gunung Judi diperkirakan terletak di pegunungan Ararat, yang kini berada di wilayah Turki, dekat perbatasan dengan Armenia dan Iran. Beberapa penemuan arkeologi di area tersebut diklaim sebagai sisa-sisa bahtera, meskipun masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan .

Menurut riwayat, bahtera berlabuh pada bulan 10 Rejab dan penumpangnya turun ke bumi pada 10 Muharram. Mereka berada di dalam bahtera selama kurang lebih satu bulan setelah banjir surut .

  1. Bagaimana Nabi Nuh Mengetahui Banjir Sudah Surut?

Jawaban: Nabi Nuh menggunakan dua jenis burung untuk mengetahui apakah banjir telah surut: burung gagak dan burung merpati. Ini adalah metode yang sangat cerdas dan menjadi pelajaran tentang pentingnya menggunakan akal dan observasi dalam memahami tanda-tanda alam.

Langkah-langkah yang dilakukan Nabi Nuh:

  1. Melepaskan burung gagak: Burung gagak adalah burung yang cekatan dan mampu terbang jauh. Nabi Nuh melepaskannya untuk menyelidiki apakah bumi sudah kering. Burung gagak tidak kembali ke bahtera dan terus terbang ke sana kemari sampai air banjir surut sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa burung gagak menemukan tempat untuk bertengger atau mencari makan di daratan yang mulai muncul .
  2. Melepaskan burung merpati: Setelah beberapa waktu, Nabi Nuh melepaskan seekor burung merpati. Burung merpati tidak menemukan tempat untuk bertengger karena air masih menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga ia kembali ke bahtera. Nabi Nuh menunggu tujuh haridan melepaskannya lagi. Kali ini, burung merpati kembali pada petang hari dengan sehelai daun zaitun segar di paruhnya. Dari sini, Nabi Nuh mengetahui bahwa air telah surut dan daratan sudah mulai kering .
  3. Menunggu isyarat dari Allah: Setelah itu, Nabi Nuh menunggu tujuh harilagi dan melepaskan merpati untuk ketiga kalinya. Kali ini, burung merpati tidak kembali, menandakan bahwa ia telah menemukan tempat untuk tinggal .

Setelah semua tanda itu, Nabi Nuh membuka penutup bahtera dan melihat bahwa permukaan bumi sudah kering. Namun, beliau tetap menunggu perintah dari Allah untuk keluar dari bahtera, sebagaimana beliau masuk ke dalam bahtera atas perintah Allah. Akhirnya Allah berfirman:

“Keluarlah dari kapal itu bersama-sama dengan istrimu, anak-anakmu dan istri-istri mereka. Bawalah keluar semua burung dan binatang lainnya, besar maupun kecil, supaya mereka bisa berkembang biak dan menyebar ke seluruh bumi.”

Kisah ini mengajarkan kita tentang kesabaran dan ketaatan. Nabi Nuh tidak terburu-buru keluar meskipun sudah melihat tanda-tanda, tetapi menunggu perintah Allah dengan penuh kepasrahan.

  1. Apa yang Dilakukan Nabi Nuh Setelah Keluar dari Bahtera?

Jawaban: Tindakan pertama yang dilakukan Nabi Nuh setelah keluar dari bahtera adalah mendirikan mezbah dan mempersembahkan kurban kepada Allah sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang diberikan. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah dan mengutamakan ibadah sebelum urusan duniawi .

Allah menerima persembahan Nabi Nuh dan berjanji:

“Selama dunia ini ada, selalu akan ada masa menanam dan masa menuai, musim dingin dan musim panas, musim kemarau dan musim hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:22)

Ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan lagi membinasakan seluruh makhluk dengan banjir besar seperti yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi umat manusia tentang kasih sayang Allah dan pentingnya menjaga ketakwaan.

  1. Apa Pelajaran Terpenting dari Kisah Bahtera Nabi Nuh?

Jawaban: Ada banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah bahtera Nabi Nuh:

  1. Iman Tidak Diwariskan: Kisah Kan’an yang tenggelam meskipun anak seorang nabi mengajarkan bahwa keimanan adalah pilihan pribadi, bukan warisan keturunan. Setiap orang bertanggung jawab atas imannya sendiri .
  2. Kesabaran dan Ketekunan: Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun dan membuat bahtera selama puluhan tahun dengan penuh kesabaran menghadapi ejekan dan cemoohan .
  3. Ketaatan Total: Nabi Nuh taat menjalankan perintah Allah, bahkan masuk dan keluar dari bahtera pun sesuai perintah Allah, bukan berdasarkan keinginan sendiri .
  4. Hidayah Hanya Milik Allah: Bahkan seorang nabi pun tidak mampu memaksakan hidayah kepada sanak keluarganya. Nabi Nuh tidak bisa menyelamatkan anaknya, Nabi Luth tidak bisa menyelamatkan istrinya, dan Nabi Muhammad tidak bisa meluluhkan hati pamannya .
  5. Kasih Sayang Allah dan Azab-Nya: Allah menyelamatkan hamba-hamba yang beriman dan membinasakan mereka yang ingkar. Ini menunjukkan keadilan Allah yang sempurna .

🌟 Pesan untuk Anak-anak dan Keluarga

Anak-anakku sayang, keluarga adalah anugerah terbesar dari Allah. Namun, kisah Nabi Nuh mengajarkan kita bahwa keimanan adalah segalanya. Tidak ada gunanya memiliki keluarga yang hebat jika kita sendiri tidak beriman dan bertakwa kepada Allah. Sebaliknya, meskipun kita tidak memiliki keluarga yang sempurna, keimanan kita kepada Allah akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat untuk selalu berbuat baik kepada keluarga, namun tetap memegang teguh iman dan tidak mengikuti mereka jika mereka mengajak kepada kemaksiatan. Selalu doakan keluarga kita agar diberi hidayah oleh Allah, karena hanya Allah-lah yang mampu membuka hati manusia.

💎 Kesimpulan

Kisah bahtera Nabi Nuh adalah bukti nyata kekuasaan dan keadilan Allah. Banjir besar yang menenggelamkan kaum kafir adalah azab bagi mereka yang mendustakan rasul, sekaligus rahmat bagi hamba-hamba yang beriman. Kisah pilu Kan’an yang tenggelam mengajarkan bahwa iman tidak diwariskan dan setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Sementara itu, cara Nabi Nuh mengetahui surutnya banjir melalui burung gagak dan merpati menunjukkan pentingnya menggunakan akal dan observasi dalam memahami tanda-tanda alam, sembari tetap berserah diri kepada Allah. Kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan sebuah pelajaran sejarah yang didukung oleh Al-Quran, tafsir ulama, dan bukti arkeologi. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah.

Terbit di website shop.ebookanak.com sebagai bagian dari program edukasi Islami untuk keluarga.

 

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “10 Tanya Jawab Seputar Bahtera Nabi Nuh: Mukjizat, Anak yang Tenggelam, dan Tanda Surutnya Banjir (Kisah Menakjubkan 25 Nabi dan Rasul)”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Lengkapi Ruangan Rumah dengan Produk Terbaik IKEA (1)